Langkah-Langkah Mengajar Materi
Komutatif, Asosiatif, dan Distributif yang Baik
A. Komutatif
Sifat komutatif adalah
pertukaran, dimana ;
a + b = b + a
a x b = b x a
Kita dapat menggunakan metode demonstrasi, diskusi, dan
tanya jawab dalam memberikan pengajaran terhadap para siswa agar mudah
dimengerti.
Langkah pertama guru memberikan soal yang mudah untuk
dikerjakan, misalnya,
200+300= 500
300+200= 500
Jadi 200+300=300+200.
Karena keduanya bila djumlahkan akan didapat hasil yang sama. Sehingga disebut komutatif, yakni hasil penjumlahan ruas kiri sama dengan ruas
kanan. Selanjutnya,
guru dapat memberikan contoh soal cerita yang berhubungan dengan
komutatif. Misalnya,
Ical naik sepeda dari sekolah ke arah utara sejauh 500 m,
kemudian ia berbalik arah keselatan sejauh 800 m. pada saat yang sama, Eki naik
sepeda ke selatan sejauh 800 m. kemudian Eki berbalik arah ke utara sejauh 500
m. Tahukah kamu di sebelah mana Ical dan
Eki sekarang berada?
Setelah dibacakan soal cerita tersebut, maka guru dan siswa
sama-sama membahas soal cerita tersebut.
Pertama Ical naik sepeda ke arah utara sejauh 500 m. lalu ia berbalik ke
selatan sejauh 800 m. Kita rubah soal
cerita tersebut ke dalam bentuk matematika;
Ical : 500 + (-800) =
-300
Kedua, Eki naik sepeda ke selatan sejauh 800 m. Lalu, ia
berbalik ke utara sejauh 500 m. Kita
rubah soal cerita tersebut ke dalam bentuk matematika;
Eki : -800 + 500 = -300
Langkah kedua, siswa diminta guru untuk melihat
bersama-sama bahwa arah Ical dan Eki berada sama. Sehingga ditarik kesimpulan bahwa soal cerita
tersebut termasuk atau memiliki sifat komutatif. Yakni apabila sisi ruas nya di jumlahkan atau
dikalikan akan sama hasilnya dengan penjumlahan atau perkalian sisi ruas
kiri.
Contoh soal komutatif
perkalian;
4 x 3 = 12
3 x 4 = 12, hasilnya
sama meskipun angka pada ruas kanan dan kiri dibalik.
Apakah sifat komutatif berlaku pada pengurangan dan
pembagian?
Perhatikan contoh berikut.
Perhatikan contoh berikut.
2
– 6 = –4 dan
6
– 2 = 4,
Jadi,
2 – 6 tidak sama dengan 6 – 2, atau 2 – 6 ≠ 6 – 2.
2
: 4 = 0,5 dan
4
: 2 = 2.
Diperoleh
bahwa 2 : 4 tidak sama dengan 4 : 2, atau 2 : 4 ≠ 4 : 2
Jadi,
pada pengurangan dan pembagian tidak berlaku sifat komutatif
Langkah ketiga, siswa diberikan soal latihan yang
berkaitan dengan komutatif agar
lebih memahami. Setelah siswa menjawab
pertanyaan tersebut, maka guru
bersama-sama membahas soal latihan yang berkaitan dengan komutatif
tersebut. Dan tak lupa guru menjelaskan
bahwa untuk bilangan bulat,
berlaku sifat komutatif pada penjumlahan dan perkalian. Guru memberikan contoh beberapa kali
sampai siswa benar-benar paham. Kemudian, Guru meminta siswa menanyakan hal yang belum dipahami.
B. Asosiatif
Sifat asosiatif
ini adalah pengelompokan, dimana ;
a + b + c = (a +b) + c
a x b x c = (a x b) x c
Dalam menyampaikan
materi ini, kita dapat menggunakan metode diskusi, ceramah, dan tanya jawab
agar siswa mudah memahami materi ini.
Langkah pertama, guru memberi tahu bahwa asosiatif
tidak jauh berbeda pengerjaannya dengan komutatif. Kemudian, guru memberikan contoh soal;
5 + 3 + 7 = 15
(5 + 3 ) + 7 = 15
Lalu selanjutnya, guru memberi contoh yang bersifat
asosiatif;
2+(3+4) = 2+7= 9
(2+3)+4 = 5+4= 9
Jadi, 2+(3+4) = (2+3)+4
sama-sama berjumlah 9. Sehingga soal
tersebut bersifat asosiatif. Hal ini
berlaku pula pada perkalian bilangan bulat, contohnya;
(2x3)x3 = 6x3 = 18
2x(3x3) = 2x9 = 18
Jadi, (2x3)x3 = 2x(3x3)
keduanya berjumlah sama, yakni 18.
Sehingga soal di atas termasuk asosiatif. Sama halnya dengan komutatif, asosiatif ini
tidak berlaku untuk pengurangan dan pembagian.
Kita buktikan;
9-(4-3) = 9-1 = 8
(9-4)-3 = 5-3 = 2, Guru
menjelaskan bahwa hasil dari pengurangan di atas tidaklah sama, sehingga
pengurangan tidak mempunyai sifat asosiatif.
9 : (3:3) = 9:1 = 9
(9:3) : 3 = 3:3 = 1, Guru
menjelaskan pula, bahwa hasil pembagian di atas tidak sama, sehingga pembagiaan
tidak memiliki sifat asosiatif.
Selanjutnya, guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menanyakan hal yang belum dipahami.
Kemudian Guru memberikan soal latihan kepada siswa agar lebih mengerti
materi tentang asosiatif ini. Kemudian,
guru bersama-sama dengan siswa membahas soal itu.
C. Distributive
Selain
sifat komutatif dan sifat asosiatif, terdapat pula sifat distributif. Sifat
distributif disebut juga sifat penyebaran, dimana,
a x (b + c) =
(a x b) + (a x c)
Sama
halnya dengan komutatif dan asosiatif, guru dalam pembelajarannya dapat
memberikan materi dengan cara demonstrasi, diskusi, dan tanya jawab agar siswa
lebih memahami materi yang diajarkan.
Langkah
pertama, guru menjelaskan sebelumnya apa itu distributive. Kemudian, guru
memberikan satu contoh soal agar siswa lebih paham ;
3x(4+5) = 3x9 = 27
(3x4) + (3x5) = 12+15 = 27.
Jadi, 3x(4+5) = (3x4)+(3x5) berjumlah
sama yaitu 27.
Guru menjelaskan, bahwa
soal di atas, walaupun berbeda bentuk akan tetapi sama hasilnya, yakni,
27. Sehingga soal tersebut termasuk ke
dalam distributive.
Guru menjelaskan, bahwa
distributive ini berbeda dengan komutatif dan asosiatif, dimana distributive
ini berlaku untuk pengurangan, dan guru pun membuktikan hal tersebut dengan
memberikan contoh;
3x(4-5) = 3x(-1) = -3
(3x4) – (3x5) = 12-15 = -3
Jadi, 3x(4-5) = (3x4) – (3x5) hasilnya
sama yaitu -3.
Guru
menjelaskan bahwa soal pengurangan di atas memiliki sifat distributive karena
menghasilkan angka yang sama yaitu -3 walaupun bentuk keduanya berbeda.
Tidak
lupa, guru menjelaskan pada perkalian
terhadap penjumlahan dan pengurangan berlaku sifat distributive. Kemudian, Guru memberikan beberapa contoh
soal yang nantinya akan dibahas bersama-sama.
Lalu, Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal yang
belum dipahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar